3 Feb 2014

Day 3: Surat Untuk Abang

Pagi itu handphone-ku berdering. Tampak ada tulisan “Papa” di layarnya.

Papa mengawali perbincangan kami dengan pertanyaan standar seperti biasa. Lagi di mana, lagi apa, udah makan atau belum. Tiga pertanyaan wajib yang selalu beliau tanyakan setiap kali menelponku. Tapi pagi itu, dari getar suara Papa yang kudengar, aku tau bahwa ada hal yang tidak biasa.

“Ada apa, Pa?” aku langsung bertanya karena sudah tidak sabar mendengar kabar yang sepertinya tidak akan kusuka.

Abang Reza kemarin kecelakaan. Kata dokter tulang punggungnya patah dan harus dioperasi.

Cuma itu kalimat yang kudengar. Selebihnya aku sudah tidak ingat karena aku sibuk menyeka air mataku yang tiba-tiba saja turun dengan sangat derasnya.

***

Abang masih ingat? Waktu kita masih kecil, Abang pernah merobek mainan boneka kertasku. Waktu itu kita bertengkar, entah apa masalahnya, kemudian aku memakai jurus andalan untuk melawan. Ngadu ke Papa. Sebagai bungsu (apalagi perempuan), tentu saja aku selalu dibela. Papa memarahi Abang dan aku senang. Dudududu~

Kemudian aku kembali ke tempat bermain. Aku kaget melihat kepala-kepala boneka kertasku terpisah dari tubuhnya. Aku pikir cuma satu yang rusak, tidak apa-apa, begitu kataku dalam hati. Tapi ternyata semuanya robek. Lebih tepatnya lagi, sengaja dirobek! Aku pun sadar, pasti Abang yang merobeknya. Dan tangisku langsung pecah. Abang dimarahi Papa untuk kedua kalinya. Syalalalala~

Abang masih ingat waktu kita pergi ngaji naik sepeda? Aku yang sedang duduk manis di belakang punggung Abang, tiba-tiba dikagetkan dengan suara “BRUK!”. Kita berdua jatuh dari sepeda karena Abang hampir saja menabrak becak.

Saat itu Abang langsung membantuku berdiri dan berkata, “Gak apa-apa dek?”. Aku meringis kesakitan sambil menjawab, “Gak apa-apa”. Kemudian Abang pun melanjutkan, “Jangan bilang Mama Papa ya kalau jatuh,”. Aku pun mengangguk menyetujui, karena kalau mereka sampai tau, Abang pasti diceramahi panjang lebar.

Abang masih ingat teman SDku yang bernama Isa? Iya, Isa yang dulu selalu menggangguku. Tapi kemudian dia menghentikan semua perbuatan jahilnya padaku setelah dia tau aku punya Abang yang duduk di kelas 5 sekolah yang sama.

Pernah waktu itu Isa tidak sengaja membuatku jatuh, ketika kami sedang bermain banteng. Kejadian itu tidak sengaja dilihat oleh Erwin, teman Abang. Tidak lama kemudian Abang sudah muncul di pintu kelasku, mencariku dan Isa. Sebenarnya Abang datang hanya ingin memastikan aku tidak terluka. Tapi kemudian Erwin menunjuk Isa, mengatakan kalau Isa yang membuatku terjatuh.

Aku masih ingat saat itu Isa terlihat sangat takut, dan berulang-ulang menjelaskan bahwa ia tidak sengaja. “Maaf mas, aku gak sengaja sungguh,” begitu kata Isa. Kemudian Abang menepuk bahu Isa, “Iya gak apa-apa. Lain kali hati-hati ya mainnya,”

Abang masih ingat waktu SMA pernah menabrak tukang becak di depan pasar? Sepeda motor Abang hancur tak berbentuk. Tukang becak yang Abang tabrak hampir mati. Mama panik sekaligus kebingungan. Untungnya Abang tidak apa-apa, cuma luka biasa. Tapi sayangnya Papa marah besar. Masalah semakin runyam ketika puncaknya sepeda motor itu dijual.

Abang masih ingat kalau dulu Mama sering dipanggil guru ke sekolah? Mereka bilang Abang selalu bercanda di kelas, tidak pernah menyimak pelajaran. Abang sudah bolos sekolah selama 3 bulan. Abang mengempeskan ban sepeda motor guru yang Abang tidak suka. Yang terakhir, Abang terpaksa pindah sekolah karena terancam tidak naik kelas.

Lalu Abang pindah ke sekolah pinggiran yang aku sendiri tidak tau di mana letaknya. Tapi akhirnya kita sama-sama mengantungi surat lulus ya Bang? Aku lulus SMP dan Abang lulus SMA. Alhamdulillah.

Abang masih ingat berapa kali Abang kabur dari rumah? Berapa kali Abang bertengkar dengan Papa? Berapa kali Abang membuat mama menangis karena mendengar kabar dari tetangga kalau anak laki-lakinya ingin kabur ke Bali? Ya Tuhan, menurutku masa lalu Abang benar-benar kelam.

***

Abang tau, aku sangat benci orang-orang yang melihat Abang dengan tatapan merendahkan. Seolah-olah anak mereka lebih baik dari Abang. Aku selalu bertekad dalam hati, kalau suatu saat nanti akan kubalas mereka. Mereka sama sekali tidak berhak menilai kita, bukan?

Bagaimanapun juga, seburuk apapun Abang di mata orang-orang, aku selalu ada di pihak Abang. Aku selalu mencoba meredakan amarah Papa. Aku selalu mencoba meyakinkan Mama kalau Abang tidak akan ke mana-mana. Aku berkata pada orang-orang itu kalau Abang tidak seperti yang mereka duga. Tapi mereka tidak percaya. Mereka tidak percaya kalau di dunia ini aku adalah orang yang paling mengenal Abang.

Sekarang aku sudah cukup lega, Bang. Abang sudah banyak berubah. Abang yang dulu paling sering bertengkar dengan Papa, kini menjadi orang nomor satu yang selalu membela Papa. Abang yang dulu paling sering membuat Mama menangis, sekarang menjadi orang nomor satu yang selalu menanyakan kesehatan Mama. Abang yang dari dulu sudah ditugaskan untuk melindungiku, sekarang menjadi seseorang yang makin mudah khawatir, bahkan ketika aku hanya demam.

Jauh di dalam hati kecilku, aku selalu yakin kalau suatu hari nanti Abang bisa kuandalkan.

***

Aku baru bisa bernafas lega setelah sore itu Abang menelponku, menceritakan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi. Aku bisa kembali tertawa mendengar Abang bercerita tentang handphone lipatku yang hilang karena Abang taruh di jok vespa. Iya, setelah itu aku baru bisa percaya kalau Abang tidak apa-apa.

Rasanya aku ingin mengutuk dokter yang menakut-nakuti Abang dengan operasi tulang punggung itu. Walaupun tidak bisa dibilang luka ringan, karena punggung Abang di-gip dan tangan kiri tidak boleh terlalu sering digerakkan, yang penting Abang tidak jadi tidur di atas meja operasi. 

Bang, untuk ke depannya jangan nabrak-nabrak lagi ya? Papa Mama sudah tidak sekuat dulu untuk mendengar kabar-kabar mengejutkan seperti itu. Abang harus lebih hati-hati. Kita harus jaga jantung Mama Papa sama-sama, ya?

Satu lagi, Bang. Tolong nanti cari calon istri yang bisa menjadi temanku dan Mama. Yang bisa sayang pada kami berdua. Yang tidak akan menjauhkan Abang dari keluarga.

Tertanda,
Adikmu yang masih lucu seperti dulu :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Leave your comment here :D