1 Feb 2014

Day 1: Bulan Kesayangan

Selamat datang, bulan kesayangan.

Bagiku Februari itu identik dengan bulan jatuh cinta. Well, I’m not talking about valentine day and everything that relate with it. Coklat-coklat dengan berbagai macam bentuk dan rasa, bunga mawar yang masih kuncup, pernak-pernik yang bernuansa merah jambu, hingga pro-kontra antar umat beragama tentang hukum merayakan hari tersebut setiap tahunnya, I don’t care.

Yang aku peduli, yang menjadi alasanku menyebut bulan Februari sebagai bulan jatuh cinta, adalah karena aku selalu jatuh cinta pada bulan ini. Kebetulan? Oh, aku lebih suka menyebutnya sebagai garis hidup yang sudah ditulis Tuhan.

Ingatanku melayang pada bulan Februari dua tahun yang lalu. Saat itu aku sedang berada di sebuah truk dan dia berdiri tepat di belakangku. Saat itu matahari pagi sedang menyinari wajah kucel kami yang baru pulang dari berpetualang selama hampir seminggu. Saat itu sopir truk menginjak pedal remnya dengan tiba-tiba. Ketika aku kehilangan pegangan dan keseimbangan, ia memegang bahuku agar aku tidak terjatuh. Dan dia tetap melingkarkan tangannya di bahuku sampai truk mengantar kami sampai ke tempat tujuan. Dia sukses membuat jantungku bergeser dari tempat di mana semestinya ia berada.

Aku tidak pernah tau apa itu definisi dari jatuh cinta. Yang aku tau sejak saat itu mata ini mengikuti ke manapun dia pergi, memperhatikan apapun yang dia lakukan, mengamati apa yang tidak dia suka, serta mencari tau apa yang bisa membuatnya tertawa.

Jatuh cinta padanya saat itu benar-benar membuatku merasa lebih hidup.

Dua tahun sudah berlalu dan saat ini aku ingin membibit yang baru. Walaupun itu artinya aku membuka kesempatan untuk seseorang bisa menyakiti dan mengecewakanku, tapi kita semua tau kalau jatuh cinta dan patah hati adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ada konsekuensi atas semua hal yang kita lakukan. Kalau ada puncak yang ingin didaki, berarti aku harus siap mati.

Aku sudah siap. Aku ingin mengundang rasa itu datang. Aku ingin membuka sepetak ruang pada hati yang sudah lama tak di tempati. Aku ingin memberinya kesempatan untuk kembali berfungsi, belajar memahami, dan jujur pada diri sendiri.

Februari, lakukan tugasmu dengan baik ya? ;)

3 komentar:

  1. Masih berharap pria yang sama itu mengisi februari mu nggak, mba?? hehe

    BalasHapus
  2. dha, kenapa kamu ngak coba buat novel atau cerita panjang gitu?
    tulisan kamu bagus2 menurut saya, ya meskipun kebanyakan curhat sih :))

    BalasHapus
  3. Ismi: Enggak kok, prianya udah beda :)))

    Adhan: Masalahnya itu Dan, aku belum bisa bikin cerita yang "gak curhat". Hahahaha

    BalasHapus

Leave your comment here :D