15 Okt 2015

Forever is a Big Lie

Setiap orang di hidup kita punya tenggat waktu, tanggal kadaluwarsa, batasan sampai kapan kebersamaan itu ada.

Setiap orang dalam hidup kita akan pergi jika waktunya sudah tiba.

Setiap orang yang datang ke dalam hidup kita, sejatinya mereka hanya singgah untuk sementara.

Di dalam dunia yang bernama realitas ini, selamanya tidak pernah ada. Ini fakta yang harus kita terima. Mau tidak mau, suka tidak suka.

Pada akhirnya kita harus sadar bahwa tidak ada alasan untuk menggantungkan harapan pada seseorang. Karena jika orang itu kemudian pergi, harapan kita akan ikut mati.

Jadilah pribadi yang mandiri, yang mampu memeluk bahagianya sendiri.

13 Okt 2015

CS dan Pelanggan yang Marah-marah

Beberapa hari yang lalu saya ada sedikit drama dengan JNE. Apalagi kalau bukan masalah pengiriman barang yang gak nyampe-nyampe.

Jadi ceritanya saya abis beli barang di olshop, tapi barangnya gak nyampe-nyampe, tapi waktu saya cek di webnya JNE, barang saya katanya udah nyampe di Pandaan dan diterima oleh orang bernama Anton. Lho? Kok Pandaan? Lho? Kok Anton? Lho? Kok nyasar? Mulailah saya panik setengah mati. Saya mencoba complain ke JNE via email dan tidak ada balasan. Kemudian saya membuka official account twitter JNE di @jnecare. Saya stalking-in orang-orang yang complain di sana, mencari tau bentuk complain seperti apa yang sering terjadi. Sama seperti kasus saya atau tidak. Maklum, ini pengalaman pertama saya berurusan dengan hal-hal seperti ini. Sebelum ini pengiriman barang saya gak pernah ada masalah sih.

Dari hasil stalking itu saya sedikit shock karena isinya customer yang ngamuk semua. Ngamuk di sini dalam artian “ngamuk” yang beneran ngamuk. Singkat kata, twitter itu isinya caci maki dari customer semua. Gak sedikit yang pake kata-kata kasar dan diketik dengan style caps lock jebol. Well, ehm, melihat fenomena ini, saya jadi kasihan sama CS-nya JNE. Mungkin juga CS perusahaan-perusahaan lain ya, di mana mereka harus mendapat amukan dari customer karena ketidakpuasaan terhadap produk/jasa perusahaan yang ditawarkan.

11 Okt 2015

Wish

It’s been one year we never meet up, and I can’t believe that missing you still hurts.
Aku berdiri di pintu kamar melihat dia sedang mengemasi barang-barangnya. Ujung mataku kemudian tertumpu pada botol parfum di sebelah tas yang belum sempat ia masukkan. Tanpa pikir panjang, aku meraih botol parfum itu. “Aku minta parfumnya ya”, kataku sambil menyemprotkan parfum itu ke jaket yang kupakai. Dia mungkin tidak tau apa alasanku meminta parfumnya waktu itu. Dia mungkin tidak tau, kalau aroma parfum itu setidaknya dapat mengobatiku kerinduanku setelah dia pergi. Ketika dia tidak lagi di sini.

Selama perjalanan ke terminal, aku tidak banyak bicara karena sedang berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang berlomba-lomba ingin keluar. Namun pada akhirnya dia tau kalau aku menangis, yang kemudian membuatnya semakin mempererat genggamannya di tanganku. Yang kemudian juga membuatnya mengucapkan berbagai macam hal untuk menghiburku. Salah satunya, dia bilang kalau kami pasti akan bertemu lagi. Saat itu aku sudah merasa bahwa dia hanya sedang membuat janji yang mungkin tidak bisa ia tepati.

Setibanya di terminal, untuk sesaat kami berdiri di depan bus yang akan segera berangkat. Hanya berdiri berdampingan, tanpa keberanian untuk saling menatap. “Kamu cepetan naik gih”, ucapku lirih. Tangannya masih menggenggam tanganku ketika ia berkata, “Aku naik, tapi kamu jangan berdiri di sini. Kamu langsung pulang”. Aku menyanggupi permintaannya. Kemudian ia melepas genggamannya, pergi berjalan menuju pintu bus. Aku langsung membalikkan tubuh tanpa menoleh lagi.

8 Okt 2015

Curhat [Teman] Perempuan

Pada suatu malam menuju dini hari, tiba-tiba BBM saya dibombardir oleh curhatan seorang teman (perempuan) tentang pacarnya yang dari sore menghilang. Bukan, pacarnya bukan lagi kesasar apalagi hilang di gunung, tapi karena si pacar gak bales whatsapp, line, atau BBM.

Kalau kata Coboy Junior sih, “D lagi D lagi D lagi, kok gak R R?”

Kemudian besok paginya, setelah saya baca curhatan yang lebih mirip esai –karena panjang banget- itu, saya langsung membalas, “Sampe sekarang belum di-read mbak?”, and then she replied, “Udah, dia bilang ketiduran dari sore,”

Saya cuma ketawa dalam hati. Ya, mari ber-positive thinking. Mungkin emang pacarnya itu kecapekan trus akhirnya ketiduran dari abis magrib dan baru bangun keesokan harinya. Saya juga pernah kayak gini kok. Teman-teman saya yang cowok juga pernah kayak gini… tepatnya waktu kita tepar abis pulang pendakian.

Lalu beberapa hari kemudian, teman kental saya waktu SMA nge-line juga untuk curhat tentang pacarnya yang beberapa waktu belakangan ini katanya suka menghilang alias tidak memberi kabar.

Miss Myself

Have you ever miss yourself?

Mungkin terdengar lucu ya kalau kita merindukan diri sendiri. But, it's what I'm feeling now. I miss my self.

Beberapa hari yang lalu, aku membuka laman facebook yang entah sudah berapa lama tidak pernah kukunjungi. Saat itu aku membaca kembali status-status yang pernah kutulis sambil senyum-senyum sendiri. Aku seperti sedang bertemu dengan refleksi diriku. Kenangan demi kenangan kembali mencuat. Aku mengingat lagi hal-hal apa yang bisa membuatku menulis seperti itu.

"Ngapain sih nulis kayak gini?"
"Dih alay banget,"

Dan masih banyak celetukan-celetukan lain yang tidak sengaja kuucapkan ketika membaca status-status jaman baheula itu. Menurutku, inilah salah satu alasan kenapa kita sejatinya harus menulis. Untuk membekukan kenangan. Untuk melihat siapa diri kita beberapa tahun yang lalu. Untuk mengukur sejauh mana kita berjalan, bagaimana kita memperbaiki diri, bagaimana usaha kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.