2 Apr 2016

Jarak

Sebagian orang mengartikan jarak sebagai hitungan matematis. Sekian meter, sekian kilometer, hingga sekian mil. Namun bagiku, jarak adalah sesuatu yang abstrak dan tak bisa diukur. Saat jarak ribuan mil tidak membuatku merasa jauh darimu, sedangkan bentangan 30 km menjadikan sosokmu (seolah) begitu jauh, saat itulah aku meyakini bahwa jarak tidak punya perhitungan yang konstan.

Aku merasa menjadi manusia terjahat sedunia setiap kali perasaan tidak senang karena kamu pulang itu muncul. Iya, aku sejahat itu, karena tidak senang setiap kali kamu di kelilingi keluarga, sahabat, dan teman-teman kesayanganmu. Karena saat itu adalah saat di mana kamu akan melupakanku. Jauh berbeda ketika kamu tengah jauh dari rumah, kamu akan rajin menghubungiku dan berbagi cerita mengenai apa saja.
Kamu, tentu saja mengingkari hal ini, dan berulang kali mengatakan bahwa itu cuma perasaanku saja, bahwa kamu tidak pernah melupakanku. Tapi, ini kenyataan yang tidak hanya sekali-dua kali ku alami. Kamu mungkin hanya tidak menyadarinya (atau tidak mau mengakuinya?).

Perasaan tidak senang -karena kamu pulang- yang kerap muncul itu membuatku mengumpat pada diri sendiri. Aku tau betul bahwa aku tidak seharusnya merasakan hal itu. Hanya saja, jarak yang tidak konstan ini benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa 30 km sialan itu mampu memisahkanmu begitu jauh dariku, membuatmu berada di luar jangkauanku.

Satu hal yang mungkin mampu menenangkanku adalah, bahwa kamu tidak sedang berada di tempat yang berbahaya. Tempat yang memaksamu untuk mempertaruhkan nyawa. Setidaknya cukup dengan mengingat fakta ini, aku bisa menerima kepulanganmu dengan perasaan lega. Walau di sisi lain aku harus kehilanganmu untuk sementara waktu.

1 komentar:

Leave your comment here :D