8 Mar 2014

Raja Tanpa Mahkota


Program #30HariMenulisSuratCinta sudah berakhir sejak seminggu yang lalu, tapi aku masih ingin terus menulis surat untukmu.

Kamu tau alasannya apa?

Mungkin karena aku yang belum berhenti mencintaimu. Iya, gombalanku sungguh basi sekali. Semoga kamu memaklumi.

Selama kamu masih mengisi hari-hariku yang membosankan ini, tolong ijinkan aku untuk tetap menulis semua tentangmu di sini, wahai Raja Tanpa Mahkota.

Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku memberikan julukan “Raja Tanpa Mahkota” padamu. Sebenarnya aku menemukan istilah itu pada sebuah blog yang pernah kukunjungi. Entah kenapa istilah itu mengingatkanku pada sosokmu sejak pertama kali aku membacanya.

Wahai, Raja Tanpa Mahkota

Kamu adalah pria keras kepala kesekian yang pernah kukenal. Tidak jarang aku heran, mengapa Tuhan menghadirkan orang-orang seperti kalian ke dalam hidupku. Mengapa aku terus-menerus dipaksa untuk menghadapi pribadi-pribadi berkepala batu. Namun di antara sekian banyak dari mereka, bagiku kamu yang ada di peringkat pertama.  Kamulah yang paling keras kepala.

Seperti halnya karakter seorang Raja dalam dongeng, yang titahnya tidak boleh ditentang, kamu pun kurang lebih seperti itu. Apa yang kamu mau, apa yang menurutmu benar, bagaimana sesuatu seharusnya berjalan, semua itu kamu yang menentukan.

Kamu tidak bisa dilawan dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan. Ini tentu saja kenyataan pahit yang harus kuhadapi, karena aku tau kadar kelembutan dalam diriku terlalu sedikit jumlahnya. Aku tau bahwa aku tidak cukup sabar untuk menghadapimu.

Wahai, Raja Tanpa Mahkota

Seperti halnya karakter seorang Raja dalam dongeng, ia dipuja oleh seluruh rakyat di negerinya karena sifatnya yang penuh belas asih, bijaksana, dan penyayang. Kamu pun seperti itu. Kamu dicintai banyak orang.

Belum lagi wanita di sekelilingmu yang berlomba-lomba merebut hatimu untuk bisa menyandang status sebagai Ratu. Bahkan tidak berhenti sampai di situ, seandainya sang Raja sudah memiliki Ratu, masih ada wanita-wanita yang rela menjadi selir.

Sekilas, kamu memang tampak sempurna.

Wahai, Raja Tanpa Mahkota

Dalam hal-hal tertentu, aku tidak suka membagi apa yang sudah kumiliki. Itu sebabnya aku menginginkanmu menjadi Raja Tanpa Mahkota. Menjadi Raja yang tidak sempurna, pun tidak dipuja banyak wanita. Aku menginginkanmu menjadi Raja untukku saja.

Namun yang selalu menjadi pertanyaan, bisakah kau menjadikan aku penghuni istana hatimu satu-satunya?

Tertanda,
Aku yang cuma rakyat biasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Leave your comment here :D