24 Mar 2014

[Imaginary] Women's Random Conversation


Eh kok kayaknya Nia gak bahagia ya setelah nikah?

“Hah? Tau dari mana?”

Ya liat aja mukanya di kamera gak pernah senyum. Apalagi kalau ada suaminya.

“Kalau menurutku sih dia bahagia. Wong tidurnya udah di tumpukan duit,”

Kalo masalah duit sih bisa dibilang kebahagiaan lahir. Kebahagiaan batinnya gimana? Padahal Nia udah berasal dari keluarga yang tajir. Logikanya, dia gak harus merid sama yang tajir juga untuk bisa ‘makan’. bener kan?

“Untuk mereka yang berdarah ningrat, status itu perlu kali. Untuk menjaga supaya darahnya tetap sama-sama ningrat, gak kecampur sama darah rakyat jelata. Istilahnya itu menjaga martabat keluarga”

Menurutku manusia itu sosok yang sangat berharga, terlepas dari kalangan manapun dia berasal. Kasian banget kalau kita bisa diukur sama uang. Kita jadi ‘murah’ kalau udah bisa dibeli sama uang, berapapun banyaknya uang itu.

Darling, kita gak hidup di bumi yang hati manusianya malaikat semua. Sampai detik ini fakta yang ada itu masih tetap sama, bahwa yang beruang itu yang memegang kuasa,”

Terus, kamu nikah sama Danu juga gara-gara uang?

“Bisa jadi,”

Kamu bahagia?

"Aku sendiri gak tau apa itu definisi bahagia. Kalau yang kamu maksud bahwa definisi bahagia adalah ketika seorang anak bisa membahagiakan kedua orang tua, ya jawabannya aku bahagia. Aku membahagiakan mama papa dengan menikahi pria pilihan mereka,"

Kamu mencintai Danu?

"Definisi cinta juga semakin absurd buatku. Yang jelas sekarang aku udah punya Danu junior, apa itu bisa diartikan kalau aku mencintainya?"

Nggg, aku ga paham maksud kamu.

"…"

Jadi?

"Gak ada perempuan yang mau punya anak kalau benihnya berasal dari pria yang tidak dia cintai,"

Oke, I got it, you love him. Susah banget bilang gitu aja.

"Danu yang gak cinta sama aku,"

Atas dasar apa kamu bilang kayak gitu?

"Insting aja. Kalau insting wanita bisa dibilang tajam, maka insting istri biasanya gak salah,"

Ada sesuatu yang pernah terjadi? Yang bikin kamu ngerasa hal itu?

"Gak ada sih,"

...

"Kalau perempuan jatuh cinta, kita bisa lihat dari senyumnya. Tapi kalau pria jatuh cinta, kita bisa lihat dari matanya. Dan aku gak menemukan apapun di mata Danu,"

Ya Tuhan, kayaknya kamu kebanyakan baca novel deh.

"Hahaha. Gak, aku serius. Kamu buktiin sendiri deh. Coba kamu lebih perhatiin Angga, the way he looks at you. Kamu bakal tau dari situ,"

Ah kamu ngaco ah.

"Coba aja sayang. Mumpung kamu belum merid loh, mumpung masih punya kesempatan buat milih, hahaha,"

Oke, aku coba nanti. Karena aku lebih tertarik sama ceritamu, jadi back to topic. Kamu udah nyoba nanya sama Danu?

"Nanya apa? Nanya apa dia cinta sama aku? Big no,"

Apa salahnya? Dia itu suami kamu. Apa aneh kalau kamu nanya hal itu?

"Justru karena dia udah jadi suami aku, hal-hal semacam itu seharusnya gak perlu dipertanyakan lagi,"

Tapi kan kasus kalian beda. Jangan bilang kalau kalian gak pernah mengungkapkan perasaan satu sama lain?

"Emang nggak,"

Gila ya. Udah nikah tiga tahun, udah punya anak satu, tapi kalian gak tergerak untuk mengetahui perasaan masing-masing?

"Itu udah gak penting buat aku,"

Jadi, yang penting buat kamu apa?

"Anakku selalu sehat dan aku bisa jadi ibu yang baik buat dia,"

Trus, gimana dengan ‘jadi istri yang baik buat Danu’?

"Ya, jadi istri yang baik buat Danu juga deh, dengan catatan selama dia masih membekaliku dengan kartu kreditnya,"

Kamu bener-bener udah gila.

"Aku gak gila, tapi realistis. Kalau aku gak dapet cinta, at least aku dapet duitnya,"

Kamu tau…di mataku, kehidupan pernikahanmu ini mengerikan.

"Dan kamu harus tau, semua kehidupan setelah menikah itu memang mengerikan. Hahaha,"

Kamu tega ya ngomong kayak gitu di depan sahabat kamu yang mau merid 2 bulan lagi.

"Ya supaya kamu gak kaget aja. Makanya aku kasih tau dari awal,"

Hmph.

"Gak semua cinta bisa berakhir dengan pernikahan dan gak semua pernikahan bisa diawali dengan cinta. Mungkin aku cuma kurang beruntung karena mengalami kasus yang kedua,"

Tapi seiring berjalannya waktu, toh kamu bisa mencintai Danu?

"Iya, aku emang bisa. Tapi Danu yang gak bisa,"

Hey, kamu bisa bikin dia jatuh cinta sama kamu.

"Gak semudah itu,"

Why? Explain more..

"Selama ini Danu bersikap baik padaku. Dia memainkan perannya sebagai suami dan menantu dengan sangat baik. Cukup dengan “dia bersikap baik”, itu udah bisa bikin aku jatuh cinta. Wanita memang makhluk yang lemah, terlalu mudah jatuh cinta. Tolol kan?"

Terus?

"Tapi pria itu beda dengan kita. Mereka selalu memilih di awal. Aku belum pernah melihat pria yang mengubah pilihan seiring dengan berjalannya waktu. Mereka sudah terlanjur dilatih untuk teguh memegang pendirian. Mungkin memang tidak semuanya, tapi aku tau kalau Danu tipikal yang seperti ini. Dari awal pernikahan, dia tidak mencintaiku sama sekali, dan itu gak akan berubah,"

Jujur ya, aku gak bisa nerima semua yang udah kamu jelasin panjang lebar. Kamu menarik kesimpulan dari sesuatu yang gak jelas latar belakangnya apa.

"Hahaha. Ya udah, pokoknya intinya, tiap rumah tangga itu ada ujiannya masing-masing. Kamu gak perlu mikirin, apalagi parno, sama kehidupanku setelah menikah yang menurutmu “mengerikan” itu,"

Iya aku tau. Tapi mendengar ceritamu, aku jadi berpikir.. sepertinya tidak ada yang lebih membahagaiakan selain bisa menikah dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita.

"Tapi kadang kita dihadapkan pada situasi di mana kita harus memilih antara mencintai atau dicintai,"

Yang aku tau, segala sesuatu itu bukan tentang apa yang kita terima, tapi tentang seberapa banyak kita berani memberi. Jadi, kalau memang harus memilih, aku lebih memilih mencintai.

"Yakin? Yakin kamu gak apa-apa kalau kamu gak dicintai? Yakin kamu bisa hidup bersama seseorang yang gak mencintai kamu?"

Hahaha pertanyaanmu bikin aku pengen tiduran di rel kereta aja rasanya.

"Hahaha, oke kalo gitu mari hentikan saja pembicaraan bodoh ini. Daripada besok ada berita, 'Calon Pengantin Wanita Ditemukan Tewas Di Rel Kereta',"

Sialan! Baiklah kita balik ke topik paling awal. Jadi menurutmu, Nia bener bahagia setelah nikah sama Ardi?

"Jawabanku tetap sama, dia bahagia. Seandainya pun dia gak bahagia, mungkin dia bisa jauh lebih gak bahagia kalau menikah dengan pria lain yang bukan Ardi,"

Hmm gitu ya..

"Pada akhirnya kita harus percaya kalau Tuhan selalu ngasih yang terbaik buat kita, iya kan?"

Nice answer ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Leave your comment here :D