19 Jan 2014

Fear


Kalau ditanya tentang hal apa yang kutakutkan di dunia ini, salah satu jawabannya adalah ketinggian. Walaupun belum termasuk ke dalam kategori phobia, tapi lutut ini cukup gemetar tiap kali berada di ketinggian dan kemudian menengok ke bawah.

Tahun 2012 yang lalu, aku rafting bersama teman-teman di Probolinggo. Aku agak shock waktu guide mengatakan bahwa di tengah pengarungan akan ada jumping. Well, aku memastikan kalau pendengaran ini masih berfungsi dengan baik. Mas-nya bilang akan ada jumping dari ketinggian kurang lebih 5 meter. Dan kalau kamus bahasa inggris sampai saat ini belum berubah, maka jumping itu artinya lompat.

Lompat dari ketinggian 5 meter???! *pingsan*

Selama perjalanan menuju lokasi jumping, aku panas dingin. Jangankan jumping, perahu karet dibalikin aja udah cukup membuatku megap-megap di dalam air. Tapi harus kuakui bahwa adanya jumping ini membuat adrenalin terpacu. Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, aku sangat ingin mencobanya.

Akhirnya sampai di lokasi jumping. Satu-persatu peserta rafting sudah mulai naik ke atas bukit kecil, tempat untuk lompat. Beberapa diantaranya sudah ada yang terjun bebas diiringi dengan teriakan-teriakan histeris tapi seru. Karena melihat semua teman loncat, aku pun gak mau kalah. Dengan segenap keberanian yang kupunya, aku ikut naik ke bukit. Aku mau jumping!

Aku masuk antrian di barisan teman-teman yang akan melakukan jumping. Aku yang awalnya masih cengar-cengir sama temen-temen, berubah jadi pucat waktu giliran untuk lompat sudah sampai padaku. Perlahan-lahan, aku menengok ke bawah… dan shit, TINGGI BANGEEET!! GAK BERANI WOYY!!

Aku mundur lagi ke belakang. Gak jadi lompat. Ah, aku merasa chiki (ejekan yang digunakan teman-temanku untuk menyebut seseorang yang penakut/pecundang). Dengan alibi, “Nanti deh, aku belakangan aja,” kepada teman-teman, sepertinya aku masih butuh waktu untuk mengumpulkan lebih banyak keberanian.

Waktu itu yang aku rasakan adalah pengen lompat tapi takut. Tapi penasaran pengen tau rasanya lompat, tapi takut. Tapi ini kesempatan yang jarang, tapi aku takut. Tapi teman-teman semuanya lompat, tapi aku benar-benar takut! Yak, muter-muter disitu aja terus.
Berhasil mengalahkan ketakutan diri sendiri merupakan sebuah kebanggaan.
Setelah diyakinkan beberapa teman dengan kalimat-kalimat seperti, “Gak apa-apa Rau, seru kok, aku aja sampe ngulang-ngulang nih lompatnya,” atau “Ayo Rau lompat, kapan lagi bisa nyoba? Sekali-sekali gini,” akhirnya aku membulatkan tekad kalau aku harus lompat.

Aku kembali bergabung ke dalam antrian. Tibalah giliranku untuk lompat.

Aku kembali menengok ke bawah.

Glek.

Aku menelan ludah.

Mas guide di sampingku memberikan intruksi, “Kalau takut, jangan lihat ke bawah mbak. Liat saja pemandangan sekitar, terus langkahkan kaki, dan BYUUUUUURR!!”, si mas benar-benar lompat rupanya. Semudah melangkahkan kaki dan pasrah, begitu kata batinku.

Detik-detik melangkahkan kaki, aku teringat salah satu adegan pada film Dark Shadow. Di mana tokoh perempuannya bunuh diri lompat dari tebing yang dibawahnya adalah laut lepas. Aku jadi berkesimpulan bahwa orang-orang yang bunuh diri dengan cara lompat dari ketinggian adalah orang-orang yang sangat berani! *salut* *stand applause*
Terlalu lama memikirkan sesuatu hanya akan membuat kita tidak melakukan apa-apa. Berbekal dengan keyakinan seperti itu, dengan mantap aku melangkahkan kaki. BYUUUURRRR!!

Aku sering mimpi jatuh dari atas gedung, dan waktu melakukan jumping rasanya mimpiku jadi kenyataan. Beberapa detik di udara aku sempat berdoa, “God, save me please...”

Dari pengalaman jumping aku belajar banyak hal. Salah satunya adalah, untuk hidup kita butuh keberanian. Di dunia ini ada banyak hal yang membuat kita takut, cemas, khawatir, dan sejuta perasaan tidak menyenangkan lainnya. Hidup dengan perasaan-perasaan seperti itu tentu saja tidak bisa membuat kita menikmati hidup itu sendiri.

Tapi kembali lagi, aku harus mengakui bahwa kadar takut dalam diriku memang berlebih. Pergolakan batin yang saat ini sedang kualami kurang lebih sama seperti pengalaman jumping 2 tahun yang lalu.

Aku ingin lompat, tapi takut. Aku ingin melakukan hal itu, tapi aku takut. Aku benar-benar ingin mencoba, tapi aku takut. Aku akan berusaha sebaik mungkin yang kubisa, tapi aku takut.

A question, “What should I do?”, keep spin around. Anyone, shoot the gun to my head, please?
Youre not afraid of people around you, you’re just afraid of rejection. You’re not afraid to love, you’re just afraid of not being loved back. You’re not afraid to try again, you just afraid of getting hurt for the same reason, –read somewhere

2 komentar:

  1. Quote yang ada ditulisanmu selalu jleb dha.. dapet darimana ? :p

    BalasHapus
  2. aku juga lupa dan itu copas dari mana. hahahah :D

    BalasHapus

Leave your comment here :D