7 Nov 2013

Childhood Memory



gambar dipinjam di sini. terima kasih

Aku tidak ingat kapan pertama kali berkenalan denganmu. Kapan pertama kali kita saling menyebutkan nama. Kapan pertama kali kita memutuskan untuk menjadi teman. Aku hanya ingat bahwa dulu kita adalah teman sebangku.

… 
Hari pertama sekolah, aku melihatmu dengan rambut diikat ekor kuda. Kamu diantar ibumu sampai di pintu gerbang. Sedangkan aku... aku memaksa ibu mengantarku sampai pintu kelas. Saat itu aku merasa malu karena kalah dengan anak perempuan.

Aku satu-satunya temanmu bermain. Entah kenapa kamu tidak pernah mau bermain dengan anak lain. Permainan kesukaan kita adalah jungkat-jungkit dan ayunan. Selain itu kita juga sering berbagi bekal. Kamu bilang nasi goreng buatan ibuku rasanya istimewa.


Kamu pernah menangis karena terjatuh dari ayunan. Kakimu berdarah. Aku sudah bilang jangan mengayun kencang-kencang, tapi kamu tidak mau dengar. Aku memberi lukamu obat merah.

Kamu sangat pintar menggambar. Tidak hanya itu, di semua pelajaran kamu selalu lebih unggul dariku. Mewarnai, menyusun balok, bermain teka-teki, kamu selalu bisa. Kamu benar-benar pintar dan aku suka.

Waktu lomba menari di Pertamina, kita berbeda kelompok. Kamu kelompok hijau, aku kelompok biru. Aku sangat kesal, kita jadi tidak bisa menari berpasangan. Tapi tidak apa, yang penting ibu masih sempat mengambil foto kita berdua. Oh iya, kamu cantik dengan bando hijau muda.

Waktu karnaval, aku memakai baju adat pengantin perempuan Sumatra barat. Aku tidak suka baju itu, panas! Wajahku semakin cemberut setelah tau siapa pasanganku. Ergghh, kenapa bukan kamu? kenapa kamu malah pakai baju tentara? Tau gitu aku pakai baju polwan saja!

Ibu mendaftarkanku di sekolah yang salah. Beliau pikir kamu ada di SD Negeri 04. Tapi ternyata kamu di SD Negeri 05. Perbedaan satu angka memisahkan kita. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi melihatmu. Apalagi setelah aku mendengar kabar bahwa kamu pindah ke Jawa ketika kita kelas dua. Aku cuma bisa melihat foto kita waktu menari di Pertamina. Foto yang ku perbesar, ku bingkai, dan ku letakkan di atas meja belajar.

Kita lulus TK dan mendaftar di sekolah dasar yang berbeda. Teman-teman baruku menyebalkan. Guruku juga menyebalkan karena aku diletakkan di barisan paling belakang. Ada anak laki-laki berambut keriting yang sering mengangguku. Aku memasuki dunia baru dan tidak ada kamu di situ.

18 tahun berlalu dan foto kita waktu TK masih di kamar, di atas meja belajar. Kamu tidak pernah kembali ke kota ini. Kamu meninggalkan seorang teman bersama kenangan. Tapi tenang saja, semua cerita tentang masa kecil kita tidak akan pernah ku lupa.

18 tahun berlalu. Aku menemukan fotomu. Foto kita lebih tepatnya. Beberapa dari foto itu aku scan supaya bisa ku simpan di laptop. Aku mendengar kabar bahwa kamu kuliah di Pekanbaru. Aku juga berusaha mencarimu lewat situs jejaring sosial tapi tidak ketemu.

...
Always remember our childhood memory. Miss you already.

...
May be it was our first love story. Miss you already.

2 komentar:

Leave your comment here :D