3 Okt 2012

Semeru Punya Cerita (Part 1)

Sebelumnya nggak pernah terlintas dipikiranku kalo suatu hari nanti aku akan ke Semeru. Bahkan setelah membaca novel 5 cm sekalipun, aku cuma mengagumi deksripsi keindahan dan keajaiban Semeru lewat cerita yang tertuang di novel itu. Berharap atau berkeinginan untuk pergi kesana? Sepertinya mentalku belum siap..

Wacana pendakian ke Semeru bersama teman-teman Kompas setelah Hari Raya Idul Fitri pun masih ngambang, gak ada kepastian. Dan setelah rapat bersama teman-teman pengurus di Cangkir Jawa, barulah kepastian itu ada. Diputuskan kalo pendakian Semeru 2 minggu lagi yaitu pada tanggal 27 September 2012.

Waktu itu aku masih setengah gak percaya. Yakin nih Semeru 2 minggu lagi? Semeru tanah tertinggi di Jawa itu kan?

Aku seperti linglung. Pikiranku penuh dengan Semeru, Semeru, dan Semeru. Entahlah.. Semeru tampak begitu ‘menyeramkan’ di mataku. Tiap kali mau naik gunung, aku emang sedikit deg-degan. Salah satu penyebabnya adalah karena tiap naik gunung gak pernah pamit sama orang tua. Dan untuk Semeru ini, aku samasekali gak punya ide yang cerdas sebagai alasan kenapa menghilang selama 4 hari. Penyebab deg-degan lainnya adalah karena kali ini The Highest Mountain in Java. Buat aku yang new comer dalam dunia pendakian, rasanya normal kalo bakal nervous setengah mati.
Belum lagi ada salah satu temen yang aku ceritain tentang rencanaku pendakian ke Semeru, mimpi tentang aku dan Semeru. Dia mimpi kalo aku pendakian ke Semeru trus gak pulang-pulang dan temen-temen kuliah nanyain kenapa aku gak pernah masuk kuliah lagi. Yak, mimpi temenku ini cukup menggoyahkan mental.. MySpace

Hari demi hari berlalu. Persiapan demi persiapan dilakukan. Aku juga persiapan dong. Mulai dari menyiapkan perlengkapan kehangatan sebaik mungkin, karena katanya suhu di sama mencapai -2 derajat celcius, hingga persiapan fisik. Yak, akhirnya aku ikut fitnes 3 hari sebelum pendakian. Telat banget sodara-sodara.. Abis mau gimana lagi kalo jadwal kuliah padat merayap..

And finally, Tibalah hari H.. Jeng jeng jeng.. Semeru, I’m coming..

Ranupane, 27 September 2012
Peserta pendakian kali ini adalah 30 orang. Kami naek truk, oper di tumpang, kemudian lanjut ke sebuah desa yang merupakan pos pertama untuk memulai pendakian Semeru, Ranupane. Aku sudah beberapa kali ke Ranupane, dan pemandangan kebun sayur-sayuran di bukit-bukit miring sepanjang jalan selalu menyegarkan pikiran. Huaaa senangnya selama 4 hari kedepan bakal hidup tenang. Gak akan dapet sms jarkom ngerjakan tugas, gak akan ngeliat sesaknya kampus, dan hal-hal sejenis itu.
Aku tiba di Ranupane kira-kira jam 12. Perjalanan Malang – Ranupane membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Setelah mengurus perijinan, makan siang dan sholat dhuhur, tepat jam 2 siang pendakian pun dimulai. Ting !

Baru beberapa langkah meninggalkan pos Ranupane, di sebelah kiri jalan berderet pemakaman umum yang cukup luas. Jadi ini kuburan yang juga diceritain di 5 cm. Kuburan yang katanya ‘menyambut’ tiap pendaki yang akan ke Semeru. Kuburan yang seolah-olah mengingatkan bahwa di Semeru (dimana aja juga sih sebenernya), kematian sangat dekat dengan pendaki. Glek, aku menelan ludah.

Ranukumbolo
Aku tiba di Ranukumbolo sekitar jam 8 malam. Tracknya? Ya gitu deh, selandai-landainya gunung tetep aja nanjak.. Dan gak enaknya adalah track ke kumbolo ini naek turun.. kalo katanya novel 5 cm, kita kayak berjalan memutari es krim cone. Jadi kesimpulannya adalah pulangnya dari ranukumbolo ke ranupane nanti juga capek pemirsaaaah.. MySpace

Berhubung aku sampe kumbolo udah malem, jadi pemandangannya masih biasa-biasa aja. Cuma dinginnya yang luar biasa. Brr.. dinginnya minta dipeluk *salah fokus*. Oke serius, jadi Ranukumbolo itu dingin banget. Aku langsung masuk tenda, ganti baju, pake sarung tangan + kaos kaki double, pake PDL, pake jaket, pake kupluk, masuk sleeping bag, dan tetap dingin !

Temen setendaku, Ayu, udah berbalut sleeping bag dan jaket lapis dua. Ayu udah mirip banget sama mumi di Mesir sana. Aku pun langsung tidur menyusul Ayu. Agung, Andre, ama Septa yang ribut masalah telur pun tidak ku hiraukan. Semalaman aku menggigil. Gila meeen dinginnya fantastik.
Pagi pun menjelang. Mas-mas senior diluar tenda terdengar rame ketawa ketiwi. Aku masih malas bangun, udara masih dingin walaupun tidak sedingin semalam. Beberapa saat kemudian, setelah nyawaku terkumpul seutuhnya, aku keluar dari tenda. Air danau yang berkilau karena terkena pantulan sinar matahari langsung saja memenuhi pandanganku. Dua buah bukit melengkung dengan pohon pinus terbentang indah dihadapanku. Akhirnya aku berdiri disini. Tempat yang sering disebut sebagai ‘surga’nya para pendaki.

Ranukumbolo
Selamat pagi, Ranukumbolo... MySpace

Aku bergabung dengan teman-teman yang sedang masak di tepi danau. Aku masih mengerjapkan kedua mataku, memastikan kalo semua pemandangan ini bukan mimpi. Aku menyapu pandangan ke seluruh arah. Ada banyak tenda yang berdiri, warna-warninya menambah keindahan suasana pagi itu. Ranukumbolo udah kayak perkampungan. Rame. Bermacam-macam aktifitas dilakukan disana. Ada yang masak, ada yang bikin kopi, ada yang cuci piring, ada yang ngerokok sambil duduk-duduk ngelamun, dan lain-lain. Sedangkan aku? Aku duduk manis diatas matras menghadap danau dengan segelas kopi panas dihadapanku. Menikmati keindahan yang tidak pernah ku temukan sebelumnya. Subhanallah.. Pagi yang sempurna.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku langsung menoleh ke belakang. Ya, aku mencari Tanjakan Cinta. Tanjakan yang sangat terkenal karena mitosnya yang mengatakan bahwa siapapun yang berhasil melewati tanjakan tersebut tanpa berhenti dan menoleh ke belakang, sambil memikirkan orang yang dicintai, maka hubungan dengan orang tersebut akan semakin langgeng.

Sarapan pagi itu adalah nugget + sop. Berhubung dari semalem belum makan, pagi itu aku makan dengan lahap. Hari ini akan membutuhkan energi lagi karena aku dan teman-teman lainnya akan melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Setelah sarapan dan packing, pada jam 10 pagi perjalanan ke Kalimati pun dimulai...

Tanjakan Cinta
Aku berdiri beberapa saat di depan Tanjakan Cinta. Selain untuk mengatur napas, ada beberapa hal juga yang sedang aku pikirkan.

Ehm sebenernya pengen sih nyobain mitos di Tanjakan Cinta ini. Tapi apa daya nafas tak sampai. Baru beberapa langkah udah ngos-ngosan. Yaudahlah gak usah cinta-cintaan. Yang penting nyampe diatas tanjakan dengan selamat. MySpace
Tanjakan Cinta
Setelah berhasil melewati tanjakan yang gak seromantis namanya ini, aku menoleh ke belakang. Air Ranukumbolo terlihat berwarna hijau. Lagi-lagi pemandangan yang bisa bikin senyum merekah dan pegel-pegel ilang.

Di atas Tanjakan Cinta
Oro-oro Ombo
Melewati Tanjakan Cinta, padang sabana terbentang luas didepan mata. Pemandangannya harusnya sih hijau. Tapi karena lagi musim kemarau, yang ada cuma padang sabana kering dengan daun-daun coklat. Panas dan gersang. Di bawah sinar matahari yang terik, aku menuruni jalan setapak yang membelah sabana tersebut. Daerah ini disebut dengan Oro-Oro Ombo.

Oro-Oro Ombo
Cemoro Kandang
Selepas Oro-Oro Ombo, aku disambut hutan pinus (eh beneran pinus apa bukan sih?). Disana berdiri plang bertuliskan ‘Cemoro Kandang”. Huaah... anginnya semilir. Cukup mengobati kepanasan yang aku alami selama berjalan di Oro-Oro Ombo. Aku dan teman-teman beristirahat sebentar disana.
Surely, salah satu hal yang ku suka dari naik gunung adalah ketika beristirahat di bawah pohon, kemudian tidur diatas carier, telentang melihat langit biru. Damai rasanya.. MySpace

Matahari sudah semakin naik. Aku pun melanjutkan perjalanan. Katanya sih track menuju pos selanjutnya lumayan panjang dan nanjak.. perutku pun langsung mules tiap kali denger kata tanjakan.

Jambangan
Akhirnya, setelah bertarung dengan tanjakan-tanjakan, aku tiba di Jambangan *hembuskan nafas*. Tracknya naek cyiiiin. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dari Jambangan, terlihat Mahameru berdiri gagah menjulang dalam diam. Aku merinding. Guratan-guratan pasir terlihat dari tempatku berdiri. Seolah sangat dekat. Aku hanya bisa berdoa dalam hati semoga aku diberi kesempatan untuk berdiri di puncak abadi para dewa itu.. MySpace

Mahameru dari Jambangan
Dalam perjalanan Cemoro Kandang – Jambangan, banyak hal tak terduga yang terjadi. Pertama adalah kompor yang terbakar. Jadi ceritanya si Rozak laper ditengah jalan dan pengen masak mie. Saat menghidupkan kompor, entah gasnya bocor atau kompornya rusak, kompor itu terbakar. Semuanya langsung panik. Takut gas butana yang melekat di kompor tersebut meledak. Gak lucu dong kalo gas itu meledak trus apinya merambat ke daun-daun kering trus akhirnya membakar hutan. Kemudian dengan gagah berani, Azmi melempar pasir pada kompor yang terbakar itu. Setelah dilempar dengan dua genggam pasir, akhirnya api berhasil dipadamkan. *tepuk tangan buat Azmi*

Masalah pertama selesai, muncul masalah kedua. Ditengah jalan, tiba-tiba aku tersadar bahwa cincin dijari manis sebelah kiriku sudah tidak ada. DEG, MAMPUS CINCINNYA ILANG! Sekarang gantian aku yang panik. Aku sama sekali gak ngerasa buka itu cincin. Mau nyari, tapi bingung mau nyari dimana. Gak mungkin aku mau balik lagi ke cemoro kandang buat nyari cincin kecil yang mungkin udah tertimbun oleh debu-debu di sepanjang jalan. Aku pun tertunduk lesu.. merelakan cincin kesayangan tertinggal di Semeru.. MySpace

Kalimati
Kalimati
Aku tiba di Kalimati sekitar jam 4 sore. Track Jambangan – Kalimati landai. Mendekati kalimati jalannya turunan. Alamat besok pulangnya nanjak deh. Aku menghela napas..

Kata temenku, nama Kalimati itu serem. Tapi ternyata tempatnya gak serem kok. Mirip sabana (atau emang sabana?), luas, dan banyak edelweiss. Beberapa tenda pun sudah berdiri. Jadi Kalimati ini adalah tempat camp terakhir sebelum puncak. Beberapa teman yang udah nyampe duluan terlihat lagi asik masak. Sebagian lagi ngambil air di Sumber Mani.

Aku bergabung dengan teman-teman yang lagi bikin bakwan. Memasak sambil bersenda gurau adalah salah satu hal yang bikin aku ‘nagih’ naik gunung. Walaupun udara begitu dingin, tapi kebersamaan tersebut membawa kehangatan. Semuanya tertawa. Semuanya bahagia MySpace.

Agung fokus membuat adonan bakwan, Ayu fokus menggoreng bakwan. Aku? Fokus mencicipi bakwan. Huahaha. Jadi di Kalimati kemaren aku ditantang mengiris bawang. Ihh aku tu sebenernya bisa ngiris bawang, asalkan pisaunya tajem! Sayangnya kemaren itu pisaunya gak tajem, jadi bawangnya mental deh *alibi*

Hari semakin larut. Matahari tenggelam berganti bulan penuh yang bersinar sangat terang. What a perfect night..

Malam ini aku dan teman-teman harus segera beristirahat karena tengah malamnya kami akan summit attack. Selesai makan malam, aku dan Ayu sudah masuk tenda, berbungkus sleeping bag dan siap untuk memejamkan mata. Namun tiba-tiba terjadi sesuatu..

Dari dalam tenda, aku mendengar ada 2 orang pendaki lain yang datang pada rombongan kami. Beberapa teman memang masih duduk-duduk di depan api unggun. 2 orang pendaki ini mengatakan bahwa ada sepasang pendaki dari Semarang yang tadi sore ke Sumber Mani untuk ngambil air, belum kembali ke tenda sampai malam itu. Akhirnya beberapa teman membantu mencari sepasang pendaki dari Semarang ini...

Suasana yang tadi hangat, berubah menjadi mencekam. Udah jam 7 malam, nyasar di sumber mani, gak bawa headlamp dan jaket. Aku gak bisa membayangkan gimana kalo aku yang ada diposisi pendaki yang nyasar tersebut. Naudzubillah.. semoga aku dan teman-teman selalu diberi keselamatan.. itu adalah doa yang tak henti-hentinya ku ucapkan dalam hati

Alhamdulillah akhirnya 2 orang pendaki yang hilang di Sumber mani berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Keduanya ditemukan di jalan hampir ke Arcopodo (kata temen yang ikut bantuin nyari).

Jam 11 malam persiapan untuk summit attack dimulai. Jaket, masker, gatter (gak tau tulisannya bener apa nggak), sarung tangan, headlamp, air minum, roti sisir, coklat, dan tas kecil berisi kamera, itulah benda-benda yang ku bawa menuju puncak. Kira-kira jam 12 lewat, rombongan yang jumlahnya sekitar lebih dari 30 orang itu bergerak beriringan memasuki hutan gelap di bawah Mahameru..

To be continued

3 komentar:

  1. rau =.= kamu keren bangetttt huaaa aku mau jadi kereen

    BalasHapus
  2. waaaa! Aku jadi kepingin mendaki Semeru! Sambil membawa kamera, motret-motret di Ranukumbolo. Tapi, aku belum pernah mendaki gunung dan nggak punya perlengkapan naik gunung. :(

    BalasHapus
  3. @nima : aaaaaa jadi malu dibilang keren :3

    @wihikan : hehe, perlengkapan naek gunung kan bisa minjem atau nyewa :p

    BalasHapus

Leave your comment here :D