31 Jul 2014

Semoga

Suatu hari kaki-kaki kami menjejak butir pasir di sana. Aku dan dia. Ketika tangannya menggenggam sebuah botol, sedangkan tanganku mencengkram dua gulungan kertas.

Kertas itu berisi coretan-coretan kami tentang mimpi. Kertas itu penuh dengan impian dan harapan. Ditulis dengan tangan, diiringi dengan doa yang diucap dalam hati.

Ia menggulung kertas-kertas itu sebelum memasukkannya ke dalam botol.

“Apa nama ritual ini?” tanyaku.

Ritual memberitahu impian pada semesta, begitu jawabnya.

Lalu ia melempar botol itu pada laut yang terbentang. Dalam sekejap ombak pun menelannya. Botol berenang timbul tenggelam. Dua gulung kertas yang tadi kami tulis kini telah memiliki rumah.

“Untuk apa?” aku bertanya lagi.

6 Jul 2014

Kebebasan yang Kebablasan

Situasi politik negeri kita belakangan ini sangat mengerikan. Ada dua kubu yang sedang bersaing memperebutkan kekuasaan. Berbagai macam cara dilakukan, mulai dari berorasi mengenai visi dan misi, sampai menjelek-jelekkan lawan secara terang-terangan. Ironis sekali.

Mereka bilang kita negara demokrasi. Rakyat bebas bersuara dan mengeluarkan opini. Alhasil banyak surat terbuka yang beredar di dunia maya. Balas-membalas pula.

Tapi sepertinya makna kata ‘bebas’ telah di-salah-arti-kan. Bagi saya bebas bukan berarti hilang kendali sama sekali. Ibarat layangan yang diterbangkan, harus tetap ada benang yang mengikatnya di bumi.

Bebas yang berbatas.

Sebab tanpa batas, kita akan hilang dan tenggelam. Melupakan apa yang menjadi tujuan awal.

23 Jun 2014

23

dua puluh tiga juni datang lagi.
tahun ini semua berjalan lancar kecuali urusan skripsi.
orang tua yang senantiasa mendampingi.
teman-teman terbaik yang selalu di sisi.
dan lelaki yang sudah lima bulan mengisi relung hati.

terima kasih untuk semua yang telah Kau berikan, Tuhan.

doa tahun ini ada tiga.
mama papa sehat selalu.
segera meraih gelar sarjana.
satu persatu mimpi menjadi nyata.

selamat ulang tahun, raudha.
dewasalah,
bahagia selamanya.
:)

13 Jun 2014

Pesan Semangat

Mut, bangun dong Mut!

“Masih subuh, Tal. Udah berisik aja.”

Ini udah siang kali. Liat deh jendela udah dibuka. Si Bos udah pergi.

“Eh iya ya udah siang. Dan si Bos selalu membiarkan aku berantakan seperti ini setiap hari. Hmph.”

Kamu tau sendiri Bos kita orangnya kayak gimana. Bangun telat dan selalu buru-buru berangkat ke kampus.

“Semalem dia begadang lagi?”

Iya. Sampe jam 3 masih ngadep laptop. Kadang aku kasihan ngeliat si Bos.

“Hmm..sesuai dugaanku. Liat aja kasur yang penuh dengan buku dan kertas-kertas.”

Kayaknya bikin skripsi itu ribet banget yak.

“Resiko jadi mahasiswa.”

8 Jun 2014

Sunset: Behind The Story

“Makasih ya sunsetnya.”

“Kenapa bilang makasih?”

“Karena menurutku sunset itu hadiah.”

“Kenapa?”

“Tiap kali melihat sunset, aku seperti mendengar ada yang berkata, "Selamat, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk hari ini, dan sunset adalah hadiah untukmu.”

***

Aku tersenyum mendengar apa yang ia katakan saat itu. Saat aku mengajaknya melihat sunset dari atas bukit di belakang rumah kami, di mana kiri dan kanan jalan setapak yang kami lewati tumbuh ilalang-ilalang tinggi.

Semburat jingga yang dipancarkan oleh senja kala itu menemani langkah kakiku dan dia. Menjadi saksi dari jari-jari kami yang saling menggenggam. Erat.

Banyak hal yang kami bicarakan selama perjalanan. Mulai dari yang tidak penting untuk diperdebatkan, seperti kenapa senja itu berwarna jingga, sampai dengan bercerita tentang mimpi.