9 Apr 2016

Surat Balasan

Aku masih menunggu tukang pos datang. Dari pagi hingga petang. Aku senantiasa mengintip dari balik jendela. Berharap seorang pria paruh baya berseragam orange akan datang membawakanku sepucuk surat di tangan. Namun hingga matahari tenggelam yang kutunggu tak juga tiba. Ah, mungkin besok, begitu batinku menghibur diri. Menelan pahit kecewa karena harus menanti lebih lama.

Esok harinya, aku melakukan ritual serupa. Aku masih menunggu tukang pos datang. Dari pagi hingga petang. Aku senantiasa mengintip dari balik jendela. Berharap seorang pria paruh baya berseragam orange akan datang membawakanku sepucuk surat di tangan. Namun hingga matahari tenggelam yang kutunggu tak juga tiba. Mungkin kau baru sempat menulis surat balasan untukku hari ini, itulah caraku menyemangati diri sendiri. Tak kubiarkan sedikitpun keraguan datang menghadang.

Esok harinya, aku masih melakukan ritual yang serupa. Bahkan hingga ke hari ke dua puluh dua.

Aku mulai bosan menunggu. Aku mulai hilang akal, tentang apa yang sekiranya dapat menjadi alasan paling logis mengapa aku tidak juga menerima surat balasan darimu.

Di hari ke empat puluh lima, akhirnya aku putus asa. Tak mampu lagi ku bendung rasa kecewa. Semua janji yang kau ucapkan ternyata hanya bualan. Aku mengutuk kebodohanku sendiri yang dengan setia menunggu surat balasan untuk sekian lama. Surat yang mungkin sekalipun tidak pernah kau tuliskan.

5 Apr 2016

Pengalaman Operasi Si Gigi Bungsu

Akhirnyaaaaa gigi bungsu dicabut jugaaaaa! *salto*

Jadi ceritanya saya punya gigi bungsu, geraham bawah sebelah kanan, yang tumbuh tidak di jalur yang benar. Dia terpisah jauh dengan teman-temannya yang sudah tumbuh terlebih dulu. Nyempil di pojokan belakang dan ndusel ke dinding pipi. Saya yang punya ketebalan pipi di atas rata-rata manusia pada umumnya, tentu merasa sangat terganggu dengan si gigi bungsu yang nusuk-nusuk dinding pipi. Belum lagi karena tumbuhnya gak di gusi, jadilan separuh bagian atas gigi itu nabrak daging mulut lainnya. Intinya, si gigi bungsu ini sangat amat mengganggu.

Sebenarnya si gigi bungsu udah sakit sejak kuliah. Tapi saya tahan, saya kira nanti lama-lama dia bakal tumbuh lurus. Entah, saya masih berharap akan ada keajaiban yang membuat si bungsu ini normal seperti kakak-kakaknya. Tapi, beberapa waktu belakangan, si gigi bungsu semakin sering membuat daging di sekitarnya terluka. Puncaknya adalah ketika saya akan melaksanakan test TOEFL 2 minggu yang lalu. Ia beraksi di waktu yang tidak tepat. Sahabat saya Yayuk sampai harus nganterin saya ngacak-ngacak daerah Suhat buat nyari apotek, untuk beli painkiller, supaya saya bisa mengerjakan soal-soal TOEFL dengan tenang. Akhirnya sepulang dari Malang, saya membulatkan tekad bahwa saya harus ke dokter gigi.

Hanya dengan sekali lihat keadaan si gigi bungsu, Pak Dokter tanpa ragu-ragu menyarankan saya untuk operasi gigi. Menurutnya, tidak ada cara lain selain mencabut si gigi bungsu. Saya sendiri sebenarnya tidak kaget dengan hal itu, mengingat ia memang berada di tempat yang tidak semestinya. Saya pun setuju untuk operasi. Setelah mengatur jadwal, ditetapkanlah bahwa si gigi bungsu akan dieksekusi hari ini, jam 1 siang tadi.

3 Apr 2016

Susahnya Menjadi (dan Mencari) Pendengar yang Baik

Belakangan ini saya banyak dikecewakan teman-teman sendiri. Teman yang awalnya saya percaya sebagai tempat untuk berbagi cerita. Teman yang saya kira adalah sosok yang tepat untuk menceritakan seluruh kesedihan dan kesulitan yang saya alami. Tapi ternyata saya salah. Mungkin juga harapan saya pada mereka yang terlalu tinggi, jadi tidak heran kalau hanya berujung kecewa pada akhirnya.

Teman pertama, saya bercerita padanya tentang pengalaman saya mengikuti Leaderless Group Discussion. Saya bercerita bahwa saat sesi diskusi, ada satu istilah yang tidak saya mengerti, kemudian saya menanyakan arti istilah itu di forum. Kemudian, respon yang saya dengar adalah, "Ya paling gak kalau mau diskusi gitu jangan kosongan,". Perkataannya benar-benar membuat saya kecewa. Saya merasa dihakimi, dituduh pergi diskusi dengan otak kosong. Tanpa dia tau apa yang sudah saya persiapkan untuk mengikuti LGD itu.

Teman kedua, saya bercerita tentang keraguan saya untuk pergi ke jakarta guna mengikuti tes kerja. Saya menceritakan berbagai pertimbangan yang harus saya pikirkan sebelum pergi, tapi respon yang saya dapat kemudian adalah, "Kamu aja yang gak niat cari kerja di Jakarta,". Perkataan yang saya terima lagi-lagi mengecewakan. Saya dituduh "tidak niat" hanya karena saya tidak yakin untuk pergi. Seolah dia yang paling tau apa niat saya. Jugdement itu pun ia keluarkan tanpa mau tau sikon yang saya hadapi.

2 Apr 2016

Jarak

Sebagian orang mengartikan jarak sebagai hitungan matematis. Sekian meter, sekian kilometer, hingga sekian mil. Namun bagiku, jarak adalah sesuatu yang abstrak dan tak bisa diukur. Saat jarak ribuan mil tidak membuatku merasa jauh darimu, sedangkan bentangan 30 km menjadikan sosokmu (seolah) begitu jauh, saat itulah aku meyakini bahwa jarak tidak punya perhitungan yang konstan.

Aku merasa menjadi manusia terjahat sedunia setiap kali perasaan tidak senang karena kamu pulang itu muncul. Iya, aku sejahat itu, karena tidak senang setiap kali kamu di kelilingi keluarga, sahabat, dan teman-teman kesayanganmu. Karena saat itu adalah saat di mana kamu akan melupakanku. Jauh berbeda ketika kamu tengah jauh dari rumah, kamu akan rajin menghubungiku dan berbagi cerita mengenai apa saja.
Kamu, tentu saja mengingkari hal ini, dan berulang kali mengatakan bahwa itu cuma perasaanku saja, bahwa kamu tidak pernah melupakanku. Tapi, ini kenyataan yang tidak hanya sekali-dua kali ku alami. Kamu mungkin hanya tidak menyadarinya (atau tidak mau mengakuinya?).

Perasaan tidak senang -karena kamu pulang- yang kerap muncul itu membuatku mengumpat pada diri sendiri. Aku tau betul bahwa aku tidak seharusnya merasakan hal itu. Hanya saja, jarak yang tidak konstan ini benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa 30 km sialan itu mampu memisahkanmu begitu jauh dariku, membuatmu berada di luar jangkauanku.

Satu hal yang mungkin mampu menenangkanku adalah, bahwa kamu tidak sedang berada di tempat yang berbahaya. Tempat yang memaksamu untuk mempertaruhkan nyawa. Setidaknya cukup dengan mengingat fakta ini, aku bisa menerima kepulanganmu dengan perasaan lega. Walau di sisi lain aku harus kehilanganmu untuk sementara waktu.

25 Mar 2016

Stasiun Semarang Tawang

Aku tentu saja tidak pernah percaya pada kebetulan. Tapi, setiap kali melintasi stasiun ini, harapan itu selalu ada. Harapan bahwa yang disebut orang-orang  'kebetulan' itu benar adanya, dan benar-benar terjadi. Bahwa Tuhan akan membuat garis hidup kita bersinggungan untuk sekali lagi.

Kemudian aku selalu membayangkan akan melihat sosokmu, dengan sandal gunung dan flannel kesayanganmu itu, tak lupa buff bernuansa reggae di kepala dan carrier di punggung. Lalu kau akan masuk ke dalam gerbong kereta yang sama denganku. Walau tidak dengan nomor tempat duduk yang bersebelahan, namun keberadaanmu masih ada di dalam jangkauan mataku. Sementara itu aku tengah bergelut dengan diri sendiri, apakah aku akan menghampiri dan menyapamu atau tidak. Mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan resiko dari apa yang akan kulakukan.

Lamunanku buyar, sesaat ketika kereta yang kutumpangi kembali menggilas rel-rel di bawah sana. Aku tertawa. Mentertawakan diri sendiri lebih tepatnya. Kenyataan menampar kedua pipiku, menyadarkan bahwa aku tidak hidup di dalam cerita-cerita layar kaca. Sebab bagaimanapun juga, kehidupan tidak akan pernah menyuguhkan kebetulan yang sedemikan rupa tepatnya.

Stasiun Semarang Tawang, 25 Maret 2016.