It’s been one year we never meet up, and I can’t believe that missing you still hurts.
Aku berdiri di pintu kamar melihat dia sedang mengemasi
barang-barangnya. Ujung mataku kemudian tertumpu pada botol parfum di sebelah
tas yang belum sempat ia masukkan. Tanpa pikir panjang, aku meraih botol parfum
itu. “Aku minta parfumnya ya”, kataku sambil menyemprotkan parfum itu ke jaket yang
kupakai. Dia mungkin tidak tau apa alasanku meminta parfumnya waktu itu. Dia mungkin
tidak tau, kalau aroma parfum itu setidaknya dapat mengobatiku kerinduanku
setelah dia pergi. Ketika dia tidak lagi di sini.
Selama perjalanan ke terminal, aku tidak banyak bicara
karena sedang berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang berlomba-lomba ingin
keluar. Namun pada akhirnya dia tau kalau aku menangis, yang kemudian
membuatnya semakin mempererat genggamannya di tanganku. Yang kemudian juga membuatnya
mengucapkan berbagai macam hal untuk menghiburku. Salah satunya, dia bilang kalau
kami pasti akan bertemu lagi. Saat itu aku sudah merasa bahwa dia hanya sedang membuat
janji yang mungkin tidak bisa ia tepati.
Setibanya di terminal, untuk sesaat kami berdiri di depan
bus yang akan segera berangkat. Hanya berdiri berdampingan, tanpa keberanian
untuk saling menatap. “Kamu cepetan naik gih”, ucapku lirih. Tangannya masih
menggenggam tanganku ketika ia berkata, “Aku naik, tapi kamu jangan berdiri di
sini. Kamu langsung pulang”. Aku menyanggupi permintaannya. Kemudian ia melepas
genggamannya, pergi berjalan menuju pintu bus. Aku langsung membalikkan tubuh
tanpa menoleh lagi.