![]() |
| Gambar dipinjam di sini. Terima kasih. |
Entah kapan dan di mana tepatnya saya membaca kalimat di atas, tetapi kalimat itu kemudian mengingatkan saya pada sepotong lirik lagu anak-anak yang berbunyi "mawar melati semuanya indah". Ehm, mungkin ada benarnya teori "mawar melati semuanya indah" ini. Sama seperti salah satu lagu Lady Gaga yang berjudul Beautiful in My Way.
Tapi, sepertinya teori cantik mawar melati itu tetap tetap tidak berguna jika setiap orang punya definisi cantik sendiri-sendiri. Hal ini tentu tidak hanya berlaku pada konsep "cantik" saja. IMO, semua "kata sifat" itu tidak punya parameter. Semua "kata sifat" itu relatif. Semua "kata sifat" itu tergantung selera.
Tapi, kalau diperhatikan lagi, cantik itu (biasanya) selalu diidentikkan dengan kulit putih. Di TV ataupun majalah (hampir) semua modelnya berkulit putih. Kenapa? Yak, tepat sekali! Semua karena konstruksi realitas sosial (teman-teman jurusan komunikasi atau sosiologi pasti tidak asing dengan konsep ini).
Tapi, kalau diperhatikan lagi, cantik itu (biasanya) selalu diidentikkan dengan kulit putih. Di TV ataupun majalah (hampir) semua modelnya berkulit putih. Kenapa? Yak, tepat sekali! Semua karena konstruksi realitas sosial (teman-teman jurusan komunikasi atau sosiologi pasti tidak asing dengan konsep ini).



