9 Jan 2015

Resume Setahun Tentang Kita


Setahun lalu.

Aku tidak ingat apa yang kita bicarakan awalnya. Yang aku ingat hanyalah pada waktu itu aku sedang butuh teman bicara, dan kamu adalah orang yang kuhubungi. Seandainya waktu itu aku mengurungkan niat untuk menyapamu, seandainya waktu itu kamu tidak terpikir ide gila tentang kita untuk jatuh cinta, seandainya waktu itu tidak ada kesepakatan apa-apa, mungkin sampai saat ini kita masih menjadi teman biasa.

Ya, pada akhirnya setiap keputusan yang kita ambil memang akan membawa kita pada sebuah takdir. Itu yang kupercaya.

Bintang memudar, senja terbenam, bulan berganti nama, dan kita melewati banyak hal tanpa terasa. Waktu berjalan begitu cepat untuk hal-hal yang menyenangkan tentu saja. Ada banyak cerita, canda, tawa, tangis, amarah, kecewa, dan kita masih berbagi sampai hari ini. Masih saling meminjamkan hati.

17 Des 2014

Yang Bikin Meleleh

gambar dipinjam di sini. terima kasih.

Tulisan ini dibuat dalam rangka ikutan tag-nya mbak Okke di blognya sepatu merah yang bertema: Perlakuan cowok yang bikin meleleh. Ihiy! Kebetulan beberapa waktu belakangan ini lagi sering dibikin ‘meleleh’, jadinya semangat ikutan tag ini. Huahaha :’)

Okay, gak perlu prolog panjang lebar. Lets cekidot!

Catatan: dari poin 1 sampe 3 hanya untuk kamu yang punya pacar pendaki :p

1. Ditulisin namanya di puncak gunung

Jadi dulu pernah ngeliat salah satu temen nulis “I love you (nama gebetan)” di Mahameru. Waktu itu sih saya ejekin “dih norak”, padahal di dalam hati teriak “aaaa so sweet!”. Hahaha. Tapi emang hal yang satu ini pasti bikin perempuan manapun meleleh. Bukan masalah apa yang ditulis di sana, sama sekali bukan, tapi ini tentang gimana dia mengingat kita selama pendakian. Gimana dia mau repot-repot nyiapin kertas dan spidol sebelum berangkat. Gimana waktu dalam keadaan badan pegal-pegal dia mau melakukan hal itu hanya dengan satu tujuan, membuat kita senang. Uwuwuwu :’)

28 Nov 2014

Tentang Apa yang Sedang Kita Lakukan

Hallo, kamu yang sekarang entah sedang berada di mana –karena pesanku 4 jam yang lalu belum kau balas juga-

Berawal dari iseng-iseng membaca kumpulan surat-surat di blog pos cinta Februari lalu, akhirnya aku memutuskan menulis surat (lagi) untukmu. Kenapa? Karena aku terlalu bosan menonton tv seharian ini. Sejak hari minggu, sejak terakhir kali kamu menelponku, aku tidak mengeluarkan suara sama sekali kecuali kalimat basa basi pendek yang kulontarkan kepada karyawanku sesekali.

Jadi, baiklah, karena malam ini kamu sedang tidak bisa diganggu, maka melalui surat ini aku ingin bicara padamu (atau diriku sendiri?) tentang apa yang kemarin siang kita perdebatkan.

Ada resiko dari semua hal yang kita pilih, itu yang kukatakan. Love is all about risk, itu yang kamu katakan. Aku memilihmu dan (berusaha) siap menerima segala resikonya, dan kaupun begitu. Tapi sepertinya kesiapan itu hanya sebatas kata ya? Tidakkah kamu megakuinya? Atau mungkin memang hanya aku yang tidak siap?

11 Nov 2014

Kamu, Aku, dan Waktu



gambar dipinjam di sini. terima kasih.

Ada yang mengatakan bahwa dua hal di dunia ini yang dapat membekukan kenangan adalah foto dan tulisan.

Namun sayangnya (atau bodohnya?) aku hanya berhasil mengambil dua foto. Foto saat kamu sedang tidur dan foto kaki kita. Tentu saja kedua foto itu kuambil secara diam-diam. Dua foto itu tidak cukup untuk membekukan semua kenangan yang ada selama kamu di sini, kan? Dan aku masih menyesali kebodohanku karena menolak ketika kamu mengajak untuk foto bersama.

Oleh karena kita tidak memiliki cukup foto, maka satu-satunya cara yang tersisa untuk membekukan kenangan kita adalah dengan menuliskannya.

Percayalah, ini tidak mudah. Aku sudah ingin menuliskannya sejak seminggu yang lalu sebenarnya. Tapi keinginan itu hanya berakhir pada aksi ketik-hapus-ketik-hapus, sehingga tidak ada satu kalimatpun yang berhasil kususun.

Kenapa? Karena aku sendiri bingung harus memulainya dari mana.


17 Okt 2014

Dilema Packing


gambar dipinjam di sini

Waktu naik ke Merbabu beberapa waktu lalu, salah satu teman ada yang kaget melihat isi carrier saya.

‘Rau, banyak banget lo bawa baju!’

‘Biarin. Aku bawa sendiri ini..’

Songong banget ya jawabannya? Hahaha *evil laugh*

Iya, entah kenapa, mau pergi kemana pun, sekali lagi saya tekankan –kemanapun-, saya paling gak bisa bawa barang sedikit. Selalu takut ada yang kurang atau ada sesuatu yang saya butuhkan ketika sampai di tempat tujuan, dan pada akhirnya saya hanya bisa menyesal.

‘Kenapa sih tadi gak bawa A, B, C, lalala, lululu?’

Setiap berpergian, saya selalu menjadikan tas ibarat kantong doraemon, yang bisa memuat banyak barang.

Mulai dari barang-barang yang benar-benar dibutuhkan, barang-barang yang ‘mungkin’ dibutuhkan, dan barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan tapi tetap saya bawa karena saya takut jika sewaktu-waktu butuh.

:') :') :')