”Pulangnya agak malem gak apa-apa ya? Sekalian nunggu MU
main,” kata Raka sesaat kami selesai makan di sebuah warung sate pinggir
jalan.
“Trus kita mau ke mana?” sahutku sambil melirik jam di
pergelangan tangan yang masih menunjukkan pukul 10 malam.
Jawaban ‘muter-muter dulu aja deh’ dari Raka pada akhirnya berujung
di depan pagar kosku. Kami duduk di trotoar di bawah sinar lampu jalan, lalu aku
menyandarkan kepalaku di bahunya.
“Kita nabung yok buat backpacker-an
ke Inggris,” ucap Raka tiba-tiba.
“Kenapa kamu mau ke Inggris?” sebenarnya aku sudah bisa
menebak apa jawabannya.
“Mau ke Old Trafford, nonton MU secara langsung,” ia
tersenyum. Senyum yang membuat matanya menyipit seperti bulan sabit. Raka
memang sangat antusias kalau sudah membicarakan klub sepakbola kesayangannya
yang satu itu.
“Udah? Itu aja?” tanyaku lagi.

