24 Jul 2015

Surat Untuk Baymax

Dear, Baymax

Seandainya saja kamu benar-benar ada di dunia ini.

Aku membayangkan kamu keluar dari kotak merah itu ketika mendengar isak tangisku
Lalu  kamu akan berkata, “Hello, I’m Baymax. Your personal healthcare companion. Aku mendengarmu menangis, apa yang terjadi?”

Aku bergeming. Kau pun tidak sabar menunggu jawabanku, hingga akhirnya kau melontarkan pertanyaan baru.

“Dari skala 1 sampai 10, bagaimana rasanya sakitmu?”

“9” ucapku.

Kemudian kau akan memindai tubuhku. Hanya butuh beberapa detik untukmu tau apa yang sebenarnya terjadi padaku.

“Kau tidak mengalami cedera fisik. Namun, level hormon dan syarafmu menunjukkan adanya perubahan mood.” katamu kemudian.

Aku terdiam.

17 Jul 2015

Lebaran

Dari tahun ke tahun, hari raya bagiku semakin tidak terasa seperti hari raya. Mungkin tidak hanya aku, tapi kita semua merasakan hal yang sama. Gegap gempita suasana idul fitri lebih terasa ketika kita masih di usia dini. Mungkin karena saat itu kita masih menjadi “manusia suci”. Belum bergelimang dosa karena mengejar duniawi.

Sudah tiga tahun belakangan, aku merayakan idul fitri berbeda dari orang kebanyakan. Ketika orang-orang tengah asik berkumpul bersama sanak saudara, aku hanya bisa bermalas-malasan di sofa sambil menonton tv. Di saat orang-orang sedang bersalam-salaman dengan para tetangga, aku hanya bisa membalas ucapan lebaran dari teman-teman melalui telepon genggam. Merayakan idul fitri sendirian memang sangat menyedihkan.

Ah, tapi tidak apa-apa. Aku sudah biasa. Aku hanya perlu bersabar sedikit saja sampai mama papa tiba.

Akhir kata, selamat hari raya idul fitri teman-teman pembaca. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin ya. Semoga semangat beribadah di bulan Ramadhan menular ke bulan-bulan berikutnya. Semoga kita semua bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun depan bersama keluarga dan orang-orang tersayang. Amin.

9 Jul 2015

Tidak Apa-Apa (3)

Semoga sedih ini akan tuntas dalam satu malam! Itulah salah satu doa yang kuucapkan sebelum tidur. Namun doa itu sepertinya belum dikabulkan Tuhan. Karena kesedihan yang sama masih meyelubungi hari-hari berikutnya.

Aku merasa waktu bergerak lebih lambat dari biasanya. Ia tidak lagi berlari seperti apa yang kurasakan beberapa bulan lalu. Hitungan matematis untuk waktu memang selalu konstan. Namun manusia merasakan perputarannya dengan kondisi yang berbeda. Tsk.

Seseorang pernah berkata bahwa ikan yang sedang terluka harus berenang bersama dengan teman-temannya agar bisa sembuh (dengan cepat) seperti sedia kala. Dan nasibku sepertinya lebih buruk dari pada ikan. Kenapa? Karena saat ini aku sedang terluka, dan sayangnya aku tidak bisa lagi berenang bersama teman-teman. Ah, kenapa aku bisa sebodoh ini. Harusnya aku sudah mengantisipasi, dengan lebih berhati-hati menjaga diri.

3 Jul 2015

When Enough is Enough

"At some point you will realize that you have done too much for someone or something. So, the only next possible step to do is to stop. Leave them alone. Walk away. It's not like you're giving up, and it's not like you shouldn't try. It's just that you have to draw the line of determination from desperation. What is truly yours would eventually be yours, and what is not, no matter how hard you try, will never be",

It's time for whisper to yourself: enough.

Kota Para Pecundang

Shitty place. Itu nama yang kuberi pada kota ini. Kota yang menyimpan sejuta kenangan jaman waktu masih ingusan.

Aku tidak suka dengan kota ini. Kenapa? Karena kota kecil ini terlalu nyaman untuk dihuni. Karena kota ini melahirkan orang-orang yang tidak mau mencoba berjuang di kota-kota besar dengan kehidupan yang lebih kejam.

Mereka yang tidak mau beranjak dari kota ini adalah mereka yang telah terjebak di zona nyaman. Mereka tidak berani mencari kesempatan di luar gua yang sejak kecil telah mereka tempati. Mereka tidak berani memasuki lingkungan baru, berkenalan dengan teman-teman baru, pun menambah wawasan baru. Mereka lebih memilih berdiam diri di kota ini dengan resiko pemikiran yang tidak akan pernah berkembang.

Aku lahir di sini, orang tuaku di sini, aku mencintai kampung halamanku, dan sederet alasan naïf lainnya mereka lontarkan. Padahal mereka masih bisa menjadikan kota ini sebagai rumah untuk pulang. Rasanya kota ini akan lebih bermakna jika mereka pergi dari sini. Bukankah segala sesuatu yang tidak kau jumpai setiap hari akan bernilai lebih tinggi?

2 Jul 2015

Wisuda Buat Papa

Juni adalah bulan yang kusukai di antara bulan-bulan lainnya. Tentu saja karena hari lahirku ada di sana. Namun untuk tahun ini, ada satu lagi momen berharga bagiku yang terjadi di bulan Juni. Apalagi kalau bukan wisuda.

Setelah frustasi berbulan-bulan dalam mengerjakan skripsi, akhirnya momen itu datang juga. Jujur saja bahwa aku sempat putus asa dalam menyelesaikan skripsi yang super duper kampret bab pembahasannya itu. "Ini bisa selesai gak sih?" adalah pertanyaan yang terlintas berulang kali di kepala. Sampai sekarang rasanya masih gak percaya bisa melewati tahap ujian skripsi dengan selamat! (walaupun diwarnai dengan drama nangis tiga hari pasca ujian gara-gara dibantai habis-habisan ama dosen penguji). Alhamdu..lillah :)

Kemudian, hari bersejarah itu akhirnya datang (halah). Hari di mana aku memakai toga. Benda yang sangat diimpi-impikan oleh jutaan mahasiswa yang sedang berkutat dengan skripsinya. Tapi sebenarnya waktu wisuda itu, aku juga tidak begitu excited kok. Karena ternyata prosesi wisuda yang berdurasi 2,5 jam itu sangat membosankan. Bagaimana tidak, aku terduduk bosan di sebuah ruangan berisi ribuan orang dan duduk di antara mereka yang tidak kukenal. Peraturan urutan tempat duduk wisudawan berdasarkan nilai IPK itu harus diubah! Hffft.